Rabu, 21 Januari 2015

cerpen

Mushaf kusam di pojok lemari

Oleh Bagas Mulyanto

30-09-2014

Kuliah ,diskusi dan mengerjakan tugas adalah kegiatan sehari-harinya yang di lakukan oleh Romi,pemuda kurus yang berkulit putih serta mempunyai rambut yang tebal dan ikal.Ia berasl dari sudut timur pulau jawa yang biasa di sebut kota marmer atau ikan hias.Ia melanjutkan studinya setelah lulus dari pondok pesantren yang terletak di daerah jawa tengah,lalu lanjut di sebuah kota yang terkenal dengan mahasiwa juga pelajarnya.Jurusan yang ia ambil di sebuah Universitas itu telihat cukup unik yaitu ilmu perpolitikan, karena jurusan yang dulu ia ambil saat di MA Pesantrennya itu keagamaan jadi sangat berbeda haluan serta kajiannya.Karen perbedaan ini ia mempunyai nafsu usaha yang besar untuk bisa dan mengerti.Sehingga ia mempelajari seluruh konsep dan pemikiran para pakar politik yang di dalam negeri maupun luar negeri.Akibatnya seluruh kegiatan rutin batiniyyah yang ia bawa dari pesantren dulu dan ia membiasakan untuk istiqomah itu terbengkalai,mulai membaca atau tadarus Al qur’an mutholaah kitab,serta menghafal nadzom nahwu sorof.

******     *****    *****

Hari selasa tanggal 20 bulan desember di tahun 2005 Romi biasa menjalankan aktivitasnya sehari-hari tidak ada fenomena yang berbeda seperti hari-hari sebelumnya.Ia kuliah sampai siang karna hari itu hanya 4 sks saja, setelah itu ia mengikuti diskusi di organisasinya yang bertemaan tentang kepemimpinan.”konsep pemimpin yang baik dalam perpolitikan di indonesia itu seperti apa??” muncul pertanyaan dari Fahmi teman diskusi serta teman satu kelas dan organisasinya setelah pemantik memaparkan sedikit materi atau argumennya.”konsep pemimpin yang baik di indonesia itu adalah pemimpin yang sehat juga jujur dari berbagai hal, lalu pemimpin itu mashur kejujurannya , di percaya rakyat dan bisa menjaga amanah serta martabat orang banyak atau rakyat”sedikit jawaban Romi dari pertanyaan Fahmi itu.”lantas apakah sudah ada di indonesia itu pemimpin yang di paparkan oleh kamu bung “pertanyaan balik yang di kasih oleh Fahmi,sambil tersenyum sedikit menandakan bahwa diskusi ini serius tapi santai.”yaaa kita cari dan mungkin nanti itu aku “haha hahah tertawa bersama di forum diskusi itu dan menandakan selesainya diskusi.

Sesampainya di kos, Romi melihat di pojok lemarinya ada al qur’an yang tertata rapi di samping buku-buku bacaannya.Al qur’an itu kusam dan lusut penuh dengan debu karna terlihat tidak pernah di gunakan untuk tadarus.Romi duduk diatas ranjang tempat ia tidur sambil merenung dan menangis memikirkan dirinya, karena ia sangat berbeda dari prilaku juga sifatnya saat di pesantren dan setelah ia menjadi seorang akademisi di universitas ternama.Dahulu di pesantren ia terkenal anak yang rajin dalam beribadah dan menghafal kitab-kitab salaf juga nadzom-nadzom nahwu sorof sampai banyak teman-temanya yang iri akan keistiqomahannya.Tetapi setelah ia keluar pesantren ia lupa akan dirinya dan kegiatan batiniyyahnya bahkan ia tidak pernah sedikit pun menyentuh al qur’an karena ia sibuk akan dunia barunya yang lebih nikmat.Sambil menangis Romi berjalan menuju pojok lemari  dan mengambil al qur’an kusam itu ,lalu di bukalah al qur’an itu dan di ciumnya sambil menangisi akan prilaku yang dilakukan terhadap kitab suci yang di bawa oleh Nabi Muhammad.Ia membuka surah Al Mukmin ayat 39 dan membacanya dengan terdesak-desak akibat tangisanya.Setelah membacanya ia merenungi arti juga makna surah itu “artinya :hai kaumku,sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal” (Q.S Al Mukmin :39).Dari ayat itulah ia berfikir dan berkeinginan kuat untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik serta manfaat untuk dirinya dan orang lain.Ia membuat sebuah komitmen hidup yaitu usahakan setiap hari itu menjalankan aktifitas batiniyyah khususnya tadarus al qur’an walaupun ia mempunyai pekerjaan yang banyak dan sibuk agar ia selalu bisa mengkonsep hati dan fikiran dari semua beban hidup yang di berikan oleh yang maha esa.Akhirnya ia tetap menjalankan aktifitas sehari-harinya seperti biasa,tetapi ia tidak lupa menjalankan kegiatan istiqomahnya dalam beribadah khususnya konsisten dalam membaca al qu’an.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar