Barokah Kiai
Anwar
Oleh Bagas
Mulyanto
02-08-2914
Wawllahua’lam bi sowaf kata terakhir yang di
ucapkan oleh Baharudin setelah menutup pengajian rutinan malam senin di rumahnya. Setelah mengkaji
kitab fathul qorib mujib karangan Abi Suja yang menerangkan tentang ilmu fiqih
atau ibadah syariah mahdloh dari madzhab imam Syafi’i, pada malam itu Baharudin
terdiam dan merenung memikirkan kenangan kelam saat ia di pesantren yang terkemuka
dan terkenal di Indonesia, ponpes tersebut biasa di sebut ponpes lirboyo, bertempat di daerah kediri, kotanya para wali
di jawa timur. Daerah itu cukup
metropolin karena, perkembangan masyarakatnya sangat cepat dan signifikan dalam
ilmu pengetahuan, terlebih dalam kajian ilmu agama dan ilmu tatanan bahasa
asing.
Daerah Kediri itu terkenal sangat wingit dan sakral,
karena daerah itu pernah menjadi saksi bisu yang melihat sebuah negara atau
kerajaan berdiri dan berkembang pesat di zaman Mataram kuno yaitu Mataram Hindu
priode Jawa timur, kerajaan itu bernama kerajaan Kadiri. Daerah itu pula
terdapat tempat distributor rokok yang bernama Gudang garam. Gudang garam bukan
hanya tempat pusat distributor rokok yang terletak dan ternama di Negara
Indonesia tetapi, Gudang garam juga tempat pencarian pendapat masyarakat Kota
Kediri. Gudang garam berada disebelah selatan sungai brantas terusan dari
sungai bengawan solo atau dahulu terkenal dengan nama bengawan sore(nama awal).
****** *****
*****
Baharudin adalah seorang pria paru baya yang
berumur 35 tahun, ia berasal dari utaranya ibu kota indonesia. Kehidupan
sehari-harinya selain mengembangkan dan meramaikan agamanya allah melalui
dakwah dan pengajian yang di buka rutin saat malam senin didalam rumahnya, ia
juga bekerja di sebuah instansi negara yang menaungi segala bentuk pernikahan. Selain
bekerja di KUA Baharudin juga aktif di berbagai kajian keilmuan agama Islam, ia
sering mengisi acara seminar di berbagai Universitas Jakarta dan mengisi
pengajian panggilan di berbagai daerah Jakarta.
Baharudin di karuniai dua orang anak laki-laki yang
diberi nama Mustofa dan Ibrahim, hasil dari pernikahan dengan Marlina wanita yang
asli dari daerah baratnya Indonesia yaitu, Aceh. Pertemuan mereka berdua
berawal ketika mereka kuliah di sebuah Universitas ternama di Jogjakarta. Pertemuannya itu membuhakan hasil hingga
mereka sepakat untuk menjadi sepasang
kekasih. Perjalanan cintanya di jawaba oleh waktu dengan berujuk menjadi
sepasang suami istri yang di ridloi oleh agama.
***** ******
******
Malam itu ditemani secangkir kopi hitam dan
sebungkus rokok, Baharudin meratapi
perbuatan ta’dzimnya kepada mushonif pengarang kitab dan hormatnya ia
kepada guru atau ustadznya ketika dahulu dipondok pesantren. Perbuatan ta’dzim
dan hormatnya itu bermuara sampai dikehidupannya sekarang. Keberkahan itu
sebenarnya ada atau tidak ada??? ” tanya dalam dirinya”, yang ia ingat menurut
para tokoh ahli ilmu intelektual bahwasanya keberkahan itu tidak ada, yang bisa
membuat ilmu kita manfaat kepada orang lain itu ,hanyalah usaha dan keyaqinan
kita dalam mencari ilmu.Akan tetapi
menurut kaum santri alumni pesantrennya di sebuah acara diskusi terbuka tentang pembahasan
keberkahan, bahwasanya keberkahan itu ada dan nyata, kita bisa merasakannya setelah
kita pulang dan berdakwah dalam masyarakat, karna berkah atau barokah dalam
bahasa pesantren disini dikatakannya
adalah ziyadatul khoirot (bertambahnya kebagusan/kebaikan) jadi bukan hanya
usaha dan keyaqinan sajalah akan tetapi penghormatan ,tingkahlaku,adab dan
akhlaq juga harus dilaksanakan dalam mencari ilmu.
Bingung,pusing dan galau yang dilanda oleh
baharudin, karna tidak ada titik temu diantara dua kubu yang berdiskusi di
acara itu.Ia mencoba berfikir moderat untuk menghasilkan kebijakan untuk
dirinya dalam menanggapi fenomena keberkahan yang di percayai oleh para kaum
santri.Setelah berfikir keras ia teringat kejadian sore hari yang di landanya
saat di pesantren waktu itu.Sore itu ia
sowan(silaturahmi) di rumah salah satu kiainya yang bernama kiai Zamzam
,saat itu ia menceritakan kejadian dalam mimpinya pada waktu sore hari ba’da
asyhar kepada kiai Zamzam.Ia mencerceritakan bahwasanya ia bermimpi bertemu
dengan kiai Anwar( kiai alim yang sedikit jadab di pondok pesantrennya), dan ia
bersalaman kepada beliau,lalu beliau kiai Anwar meminjam sarung kepadanya , Baharudin
langsung mencarikan sarung yang sangat baik untuk di pinjamkan kepada kiai
Anwar.Setalah kiai Anwar memakai sarung yang
di berikan oleh Baharudin,beliau menarik kaus yang dikenakan oleh Baharudin dari belakang.Setelah itu beliau
mengetuk-ngetukan jari telunjuknya di bahu Baharudin sambil mendoakan kebaikan
untuk Baharudin,akan tetapi ketukan yang di berikan oleh kiai Anwar di bahunya itu
sangat keras dan sakit sehingga Baharudin tidak bisa menahan kesakitan dan
menangis sejadi-jadinya,sehingga doa yang di ucapkan oleh kiai Anwar untuknya,
tidak bisa didengarkannya.
Setelah menceritakan kejadian itu, Baharudin
meminta solusi atau penjelasan tabir dari mimpinya kepada kiai Zamzam.”Kang
tidak usah terlalu di pikirkan dan kolot untuk mencarikan tabir mimpi itu “kata
kiai Zamzam kepada Baharudin,”anggap saja itu sebuah kebaikan untuk kamu,yang
dimana nanti ,kamu akan mendapatkan kemanfaatan dan keberkahanya itu saat kamu
sudah tidak disini atau tamat di sekolah diniyah “lanjut kiai Zamzam.”enggih
ya’i”sedikit ucapan mengiyakan yang di
berikan Baharudin kepada kiai Zamzam.”intinya jangan sampai sekolah dan hafalan
pelajaran kamu terganggu sebab memikirkan tabir mimpi itu” sedikit masukan yang
di berikan lagi oleh kiai Zamzam untuk Baharudin sebelum pamit untuk kembali ke
asrama tempat tinggalnya di pesantren dan menjalanan aktivitas kembali.
***** *****
*****
Akhirnya Baharudin mengambil kepastian dari
ingatanya,bahwasanya berkah atau barokah itu ada.Keberkahan dan barokah itulah
yang membuat kemanfaatan ilmu agamanya,juga ridlo dan doa para ustadz
pesantrennyalah yang membuat dirinya
diterima di tengah masyarakat saat berdakwah ,terlebih barokah dari doa kiai
Anwar di dalam mimpinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar