Rabu, 21 Januari 2015

cerpen



Barokah Kiai Anwar
Oleh  Bagas Mulyanto
02-08-2914
Wawllahua’lam bi sowaf kata terakhir yang di ucapkan oleh Baharudin setelah menutup pengajian  rutinan malam senin di rumahnya. Setelah mengkaji kitab fathul qorib mujib karangan Abi Suja yang menerangkan tentang ilmu fiqih atau ibadah syariah mahdloh dari madzhab imam Syafi’i, pada malam itu Baharudin terdiam dan merenung memikirkan kenangan kelam saat ia di pesantren yang terkemuka dan terkenal di Indonesia, ponpes tersebut biasa di sebut ponpes lirboyo,  bertempat di daerah kediri, kotanya para wali di  jawa timur. Daerah itu cukup metropolin karena, perkembangan masyarakatnya sangat cepat dan signifikan dalam ilmu pengetahuan, terlebih dalam kajian ilmu agama dan ilmu tatanan bahasa asing.
Daerah Kediri itu terkenal sangat wingit dan sakral, karena daerah itu pernah menjadi saksi bisu yang melihat sebuah negara atau kerajaan berdiri dan berkembang pesat di zaman Mataram kuno yaitu Mataram Hindu priode Jawa timur, kerajaan itu bernama kerajaan Kadiri. Daerah itu pula terdapat tempat distributor rokok yang bernama Gudang garam. Gudang garam bukan hanya tempat pusat distributor rokok yang terletak dan ternama di Negara Indonesia tetapi, Gudang garam juga tempat pencarian pendapat masyarakat Kota Kediri. Gudang garam berada disebelah selatan sungai brantas terusan dari sungai bengawan solo atau dahulu terkenal dengan nama bengawan sore(nama awal).
******   *****   *****
Baharudin adalah seorang pria paru baya yang berumur 35 tahun, ia berasal dari utaranya ibu kota indonesia. Kehidupan sehari-harinya selain mengembangkan dan meramaikan agamanya allah melalui dakwah dan pengajian yang di buka rutin saat malam senin didalam rumahnya, ia juga bekerja di sebuah instansi negara yang menaungi segala bentuk pernikahan. Selain bekerja di KUA Baharudin juga aktif di berbagai kajian keilmuan agama Islam, ia sering mengisi acara seminar di berbagai Universitas Jakarta dan mengisi pengajian panggilan di berbagai daerah Jakarta.
Baharudin di karuniai dua orang anak laki-laki yang diberi nama Mustofa dan Ibrahim, hasil dari pernikahan dengan Marlina wanita yang asli dari daerah baratnya Indonesia yaitu, Aceh. Pertemuan mereka berdua berawal ketika mereka kuliah di sebuah Universitas ternama di Jogjakarta.  Pertemuannya itu membuhakan hasil hingga mereka sepakat untuk menjadi  sepasang kekasih. Perjalanan cintanya di jawaba oleh waktu dengan berujuk menjadi sepasang suami istri yang di ridloi oleh agama.
*****     ******    ******
Malam itu ditemani secangkir kopi hitam dan sebungkus rokok, Baharudin meratapi  perbuatan ta’dzimnya kepada mushonif pengarang kitab dan hormatnya ia kepada guru atau ustadznya ketika dahulu dipondok pesantren. Perbuatan ta’dzim dan hormatnya itu bermuara sampai dikehidupannya sekarang. Keberkahan itu sebenarnya ada atau tidak ada??? ” tanya dalam dirinya”, yang ia ingat menurut para tokoh ahli ilmu  intelektual  bahwasanya keberkahan itu tidak ada, yang bisa membuat ilmu kita manfaat kepada orang lain itu ,hanyalah usaha dan keyaqinan kita dalam mencari ilmu.Akan  tetapi menurut kaum santri alumni pesantrennya di sebuah  acara diskusi terbuka tentang pembahasan keberkahan, bahwasanya keberkahan itu ada dan nyata, kita bisa merasakannya setelah kita pulang dan berdakwah dalam masyarakat, karna berkah atau barokah dalam bahasa pesantren  disini dikatakannya adalah ziyadatul khoirot (bertambahnya kebagusan/kebaikan) jadi bukan hanya usaha dan keyaqinan sajalah akan tetapi penghormatan ,tingkahlaku,adab dan akhlaq juga harus dilaksanakan dalam mencari ilmu.
Bingung,pusing dan galau yang dilanda oleh baharudin, karna tidak ada titik temu diantara dua kubu yang berdiskusi di acara itu.Ia mencoba berfikir moderat untuk menghasilkan kebijakan untuk dirinya dalam menanggapi fenomena keberkahan yang di percayai oleh para kaum santri.Setelah berfikir keras ia teringat kejadian sore hari yang di landanya saat di pesantren waktu itu.Sore itu ia  sowan(silaturahmi) di rumah salah satu kiainya yang bernama kiai Zamzam ,saat itu ia menceritakan kejadian dalam mimpinya pada waktu sore hari ba’da asyhar kepada kiai Zamzam.Ia mencerceritakan bahwasanya ia bermimpi bertemu dengan kiai Anwar( kiai alim yang sedikit jadab di pondok pesantrennya), dan ia bersalaman kepada beliau,lalu beliau kiai Anwar meminjam sarung kepadanya , Baharudin langsung mencarikan sarung yang sangat baik untuk di pinjamkan kepada kiai Anwar.Setalah kiai Anwar  memakai sarung yang di berikan oleh Baharudin,beliau menarik kaus yang dikenakan oleh  Baharudin dari belakang.Setelah itu beliau mengetuk-ngetukan jari telunjuknya di bahu Baharudin sambil mendoakan kebaikan untuk Baharudin,akan tetapi ketukan yang di berikan oleh kiai Anwar di bahunya itu sangat keras dan sakit sehingga Baharudin tidak bisa menahan kesakitan dan menangis sejadi-jadinya,sehingga doa yang di ucapkan oleh kiai Anwar untuknya, tidak bisa didengarkannya.
Setelah menceritakan kejadian itu, Baharudin meminta solusi atau penjelasan tabir dari mimpinya kepada kiai Zamzam.”Kang tidak usah terlalu di pikirkan dan kolot untuk mencarikan tabir mimpi itu “kata kiai Zamzam kepada Baharudin,”anggap saja itu sebuah kebaikan untuk kamu,yang dimana nanti ,kamu akan mendapatkan kemanfaatan dan keberkahanya itu saat kamu sudah tidak disini atau tamat di sekolah diniyah “lanjut kiai Zamzam.”enggih ya’i”sedikit ucapan  mengiyakan yang di berikan Baharudin kepada kiai Zamzam.”intinya jangan sampai sekolah dan hafalan pelajaran kamu terganggu sebab memikirkan tabir mimpi itu” sedikit masukan yang di berikan lagi oleh kiai Zamzam untuk Baharudin sebelum pamit untuk kembali ke asrama tempat tinggalnya di pesantren dan menjalanan aktivitas kembali.
*****   *****   *****
Akhirnya Baharudin mengambil kepastian dari ingatanya,bahwasanya berkah atau barokah itu ada.Keberkahan dan barokah itulah yang membuat kemanfaatan ilmu agamanya,juga ridlo dan doa para ustadz pesantrennyalah  yang membuat dirinya diterima di tengah masyarakat saat berdakwah ,terlebih barokah dari doa kiai Anwar di dalam mimpinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar